Penggolongan Cidera Berdasar KepMen 555

Blog Mas Dory - Penggolongan cidera akibat kecelakaan tambang berdasarkan pasal 40 beserta pasal 41 tentang ketentuan melapor berdasarkan KepMen no 555 K/26/MPE/1995. Setelah beberapa waktu yang lalu saya berbagi informasi tentang 5 kategori suatu kecelakaan bisa disebut sebagai kecelakaan tambang berdasarkan pasal 39 KepMen no 555 K/26/MPE/1995 bagian kesepuluh tentang kecelakaan tambang dan kejadian berbahaya. Sekarang saya lanjutkan dengan berbagi informasi tentang ketentuan melapor dan penggolongan cidera yang diakibatkan oleh kecelakaan tambang tersebut.

Baca Juga: 5 Kriteria kecelakaan tambang berdasarkan pasal 39 tentang kecelakaan tambang dan kejadian berbahaya KepMen no 555 K/26/MPE/1995 disini.

Menurut saya, informasi ini penting untuk diketahui oleh pengawas, khususnya diri saya pribadi, karena setiap kejadian kecelakaan yang terjadi di tambang harus segera dicatat, dilaporkan, dan digolongkan. Membuat dan menandatangani laporan dari setiap inspeksi, atau kejadian lain seperti kecelakaan tambang merupakan tugas dan kewajiban seorang pengawas.

Baca Juga: Kewajiban pengawas operasional dan pengawas teknik berdasarkan pasal 12 dan pasal 13 KepMen no 555 K/26/MPE/1995 beserta pasal pendukung lainnya disini.

Gambar Insident 2 Dumptruck | Blog Mas Dory

Beberapa tujuan yang saya ketahui kenapa setiap kejadian kecelakaan harus dilaporkan adalah agar kita bisa segera dicari penyebab dari kecelakaan tersebut. Jika penyebab kecelakaan sudah diketahui, tindakan perbaikan seperti apa yang dapat diambil agar kecelakaan serupa tidak terjadi lagi dikemudian hari. Jika dilihat dari sisi perusahaan, setiap kejadian kecelakaan yang dilaporkan tersebut akan berpengaruh terhadap citra dan nama baik perusahaan itu di mata pemerintah dan consumer. Hal ini tentu membuat perusahaan tersebut harus lebih meningkatkan lagi standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di area kerja nya.

Ketentuan Melapor.
Sebelum membahas penggolongan cidera akibat kecelakaan tambang menurut KepMen no 555 K/26/MPE/1995 pasal 40, ada baiknya jika kita memahami ketentuan melaporkan suatu kecelakaan tambang. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah kondisi dari korban kecelakaan tersebut. Seringan apapun cidera yang dialami korban kecelakaan, sudah seharusnya korban tersebut mendapat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan dan sesegera mungkin dibawa ke ruang perawatan medis baik itu ruang perawatan medis yang disediakan oleh perusahaan pertambangan tersebut, atau di bawa ke rumah sakit terdekat.

Tindakan ini dilakukan untuk menghindari cidera lebih parah yang mungkin dialami oleh korban jika tidak segera dilakukan pertolongan pertama pada kecelakaan. Disamping itu hasil dari tim medis bisa menentukan termasuk dalam golongan cidera seperti apa cidera yang dialami oleh korban, apakah cidera ringan, cidera berat, atau bahkan fatality (meninggal). Jika cidera yang dialami korban masuk dalam golongan cidera berat atau fatality, maka Kepala Teknik Tambang harus segara memberitahukan kejadian kecelakaan tambang tersebut kepada KAPIT (Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang) untuk dilakukan investigasi lebih mendalam.

Hal tersebut diatas dilakukan sesuai dengan pasal 41 tentang ketentuan melapor KepMen no 555 K/26/MPE/1995 yang berbunyi:

Pasal 41
Ketentuan Melapor

(1) Pekerja tambang yang cidera akibat kecelakaan tambang yang bagaimanapun ringannya harus dilaporkan ke ruang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan atau tempat Perawatan Kesehatan untuk diperiksa atau diobati sebelum meninggalkan pekerjaan.

(2) Laporan kecelakaan dan pengobatan dimaksud dalam ayat (1), harus dicatat dalam buku yang disediakan khusus untuk itu.

(3) Apabila terjadi kecelakaan berakibat cidera berat atau mati Kepala Teknik Tambang harus segera mungkin memberitahukan kepada Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.


Penggolongan Cidera Akibat Kecelakaan Tambang.
Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa cidera akibat kecelakaan tambang harus dicatat dan digolongkan. Berikut ini adalah KepMen no 555 K/26/MPE/1995 pasal 40 tentang Penggolongan Cidera Akibat Kecelakaan Tambang:

Pasal 40
Penggolongan Cidera
Akibat Kecelakaan Tambang

Cidera akibat kecelakaan tambang harus dicatat dan digolongkan dalam kategori sebagai berikut:

a. Cidera Ringan
Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak mampu melakukan tugas semula lebih dari 1 hari dan kurang dari 3 minggu, termasuk hari minggu dan hari libur,

b. Cidera Berat
1) Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak mampu melakukan tugas semula selama lebih dari 3 minggu termasuk hari minggu dan hari libur,

2) Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang cacat tetap (invalid) yang tidak mampu menjalankan tugas semula dan

3) Cidera akibat kecelakaan tambang tidak tergantung dari lamanya pekerja tambang tidak mampu melaksanakan tugas semula, tetapi mengalami seperti salah satu hal dibawah ini:

a) Keretakan tengkorak kepala, tulang punggung, pinggul, lengan bawah, lengan atas, paha atau kaki;

b) Pendarahan di dalam, atau pingsan disebabkan kekurangan oksigen;

c) Luka berat atau luka terbuka/terkoyak yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan dan

d) Persendian yang lepas dimana sebelumnya tidak pernah terjadi;

e) Mati.
Kecelakaan tambang yang mengakibatkan pekerja tambang mati dalam waktu 24 jam terhitung dari waktu terjadinya kecelakaan tersebut.

Pemahaman saya dari pasal 40 diatas, penggolongan cidera akibat kecelakaan tambang bisa ditentukan dari beberapa hal:

a. Cidera ringan.
Untuk cidera ringan adalah luka yang mengakibatkan korban tidak dapat melakukan aktifitas dan tugasnya selama kurun waktu 1 hari sampai 21 hari (termasuk hari minggu dan hari off korban tersebut) terhitung sejak kejadian kecelakaan. Luka yang masuk dalam kategori cidera ringan ini adalah semua jenis luka atau kondisi yang tidak disebutkan dalam ayat b (cidera berat) diatas.

b. Cidera Berat.
Cidera berat terbagi menurut beberapa kategori:

b. 1. Menurut lama tidaknya korban tidak bisa melaksanakan tugasnya seperti biasanya. Yang termasuk dalam cidera berat adalah luka yang mengakibatkan korban tidak bisa bekerja atau beraktifitas seperti sedia kala selama lebih dari 21 hari termasuk hari minggu, hari libur, dan hari off korban tersebut terhitung sejak kejadian kecelakaan.

b. 2. Menurut tingkat keparahan dan dampak luka permanen (cacat seumur hidup) yang berakibat korban tidak mampu melaksanakan tugas seperti sedia kala. Contoh cidera berat yang masuk kategori ini seperti korban mengalami kebutaan, tuli (tidak dapat mendengar), kehilangan sebagian anggota tubuh seperti kaki, tangan, dsb.

b . 3. Menurut spesifikasi luka dan kondisi yang dialami korban kecelakaan. Kategori cidera ini tidak tergantung dari lama tidaknya korban bisa beraktifitas dan bertugas kembali, namun lebih kepada jenis luka yang mengancam nyawa dari korban nya. Walaupun korban bisa bekerja kembali dalam kurun waktu kurang dari 21 hari sejak kejadian kecelakaan, namun jika korban mengalami jenis dan kondisi luka seperti ini, maka tetap di kategorikan sebagai cidera berat, bukan cidera ringan.

Satu contoh korban mengalami pingsan karena kekurangan oksigen saat bekerja melakukan pengelasan di dalam tangki (bekerja dalam ruang terbatas), maka kejadian pingsan nya korban tersebut dikategorikan sebagai cidera berat walaupun korban bisa beraktifitas dan bekerja kembali dalam kurun waktu kurang dari 21 hari. Sebab kejadian pingsan nya korban lebih mengancam nyawa korban tersebut. Di samping itu, perlu dilakukan pemeriksaan oleh tim medis apakah terdapat kerusakan atau gangguan fungsi sel-sel otak akibat dari kekurangan oksigen saat kejadian tersebut.

Untuk penjelasan pasal 40 ayat (b. 3. d) diatas tentang persendian yang lepas dimana sebelumnya tidak pernah terjadi adalah kejadian kecelakaan yang menyebabkan dislokasi, lepasnya persendian bagian tubuh korban (tangan, kaki, dll) untuk pertama kalinya.

Contoh korban terjatuh dari kabin unit HD Caterpillar 973 saat hendak menaiki unit tersebut dan mengakibatkan dislokasi atau lepasnya persendian lutut dari tempat nya. Jika dislokasi sendi lutut korban tersebut adalah pertama kalinya bagi korban (belum pernah terjadi sebelumnya), maka kejadian kecelakaan tersebut dikategorikan sebagai cidera berat.

Namun jika korban pernah mengalami lepas sendi lutut sebelumnya, maka cidera yang dialami tersebut tidak di sebut sebagai cidera berat. Cidera tersebut akan dikategorikan sebagai cidera berat jika dalam kurun waktu lebih dari 21 hari sejak kejadian, korban tidak dapat melakukan tugas nya seperti biasa. Dalam hal ini, bukan lepasnya persendian (dislokasi) yang membuat suatu cidera di sebut sebagai cidera berat, namun lebih kepada lamanya waktu (lebih dari 21 hari) sesuai dengan ayat (b. 1.) di atas.

Untuk penjelasan pasal 40 ayat (b. 3. e) tentang "mati" adalah kejadian kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia dalam kurun waktu kurang dari sama dengan 24 jam terhitung sejak kejadian kecelakaan dan dibuktikan dari hasil visum yang dikeluarkan oleh dokter / pihak rumah sakit.

Demikian pemahaman saya tentang penggolongan cidera akibat kecelakaan tambang berdasarkan pasal 40 KepMen no 555 K/26/MPE/1995 beserta pasal 41 tentang ketentuan melapor. Mohon maaf atas segala kekurangan. Jika anda adalah orang yang ahli di bidang pertambangan dan kebetulan membaca tulisan saya yang masih pemula di dunia pertambangan ini, mohon jangan ragu-ragu untuk membagikan ilmu anda dengan berkomentar di bawah ini. Harapan saya semoga informasi ini bisa bermanfaat buat yang membutuhkan. Sekian dan terima kasih.

Sumber informasi dan rujukan: KepMen no 555 K/26/MPE/1995 pasal 40 tentang penggolongan cidera akibat kecelakaan tambang dan pasal 41 tentang ketentuan melapor.
Reviewer: Mas Dory
on: 1/31/2015, Rating: 5
ItemReviewed: Penggolongan Cidera Berdasar KepMen 555
Descripton: Blog Mas Dory - Penggolongan cidera akibat kecelakaan tambang berdasarkan pasal 40 KepMen no 555 K/26/MPE/1995 beserta pasal 41 tentang ketentuan melapor.
79 komentar Form Kotak komentar
31 January, 2015 07:01 ×

waw saya yang orang awam ini baru tahu banget jika cedera pun ada Kepmen dengan nomor 555 ya kang, jadi inget sama merek sigaret 555.
ilmunya saya jadi nambah nih kang.
makasih yah

Balas
Author
31 January, 2015 08:51 ×

Jadi nampah pengetahuan dan info tentang pertambangan nih, secara ane kan awam di bidang ini....

Balas
Author
31 January, 2015 08:53 ×

berarti ada syarat-syarat tertentu ya... jadi tambah tau mas walaupun sedit

Balas
Author
31 January, 2015 09:24 ×

wahh ternyata dalam pengurusan nyaa tidak sembarangan yah dan ternyata sudah ada aturannya di perundang undangan keren ini ulasannya mas :)

Balas
Author
31 January, 2015 13:23 ×

mungkin karena bidang pengetahuan kita yang berbeda-beda kang, jadinya hal seperti ini baru terdengar, termasuk juga saya kang, baru dengar kalau cidera itu ada peraturannya, jadi jangan kesannya dibuat-buat begitu.?

Balas
Author
31 January, 2015 14:48 ×

weeeaahhhhsebelumnya selamat dulu ada GAnya....tambah menarik.....kedua, kalau kita cedera kira-kira hak apa yang kita dapat. atau kalau kita sakit aja, gara-gara pekerjaan menuntut cepat selesai, dapat uang perobatan gak ya, dan rujukannya biasanya kemana? makasih sebelumnya.

Balas
Author
31 January, 2015 15:01 ×

keseleo sama salah urat berarti gak masuk cedera ya mas? :)

Balas
Author
31 January, 2015 17:54 ×

makin menambah wawasan saya dalam dunia pertambangan kang Dory, walaupaun sebelumnya saya nihil tidak tau sama sekali dunia pertambangan itu seperti apa hehehe, dunia kerja dalam pertambangan tentunya sangat di perhatikan ya mas, dalam soal Penggolongan Cidera terdapat pasal2nya juga hehehe, trims infonya Mas Dory , ,

Balas
Author
31 January, 2015 17:56 ×

gak ngerti nih soal kayak gitu, yang jelas, walaupun ada perlindungan kita harus tetap hati hati dalam berkendara, biar tidak sampai terjadi kayak truck dum diatas. hehe

Balas
Author
31 January, 2015 20:21 ×

serem juga ya mas baca kecelakaan di tempat pertambangan, semoga dengan adanya kepmen dan semua peraturannya ini, tingkat kecelakaan semakin minim.

Balas
Author
31 January, 2015 22:34 ×

Weiya.. ada GA-nya. Selamat sebelumnya mas Dory. :D
Udah nggak diragukan lagi deh mas Dory masalah tambang. Top markotop!

Balas
Author
31 January, 2015 22:46 ×

@Cilembu Thea Semoga bisa bermanfaat buat yang lagi cari informasi tentang penggolongan cidera berdasarkan KepMen 555 ini ya kang Amin hehe. Jadi inget belum ngudud, ngudud dulu kang hehe terima kasih kembali sudah berkunjung kang Cilembu Thea. :D

@Devy Indriyani sebenarnya termasuk dalam kategori apapun itu, cidera dan kejadian kecelakaan tetap mendapat perhatian dan penanganan utama. Tujuan dari penggolongan cidera ini, salah satunya untuk mencegah terjadinya kecelakaan serupa di kemudian hari. :D

Balas
Author
31 January, 2015 22:50 ×

Saya sendiri masih harus banyak belajar tentang dunia pertambangan ini Mas Daniel Nagata. Sembari belajar, tidak ada salahnya juga saya berbagi informasi yang saya ketahui, salah satunya penggolongan cidera berdasarkan KepMen 555 ini. hehehe Terima kasih sudah berkunjung ya mas Daniel Nagata. :d

Balas
Author
31 January, 2015 22:58 ×

Hehe iya Mbak Imerlina Putri, penggolongan cidera akibat kecelakaan tambang berdasarkan kepmen 555 di atas bertujuan juga agar perusahaan pertambangan lebih mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja pekerjanya. Toch itu demi nama baik dan citra perusahaan tersebut di mata pemerintah dan consumer nya. :D

Balas
Author
31 January, 2015 23:02 ×

Hehe terima kasih atas apresiasinya Mas Ainnul yaqin. Ini nih salah satu kelemahan saya, kalau dipuji langsung lupa mau harus gimana menanggapi komentarnya. :D

Balas
Author
31 January, 2015 23:09 ×

Iya terima kasih ya mbah atas ucapan selamatnya. Mudah-mudahan bisa mengikuti kesuksesan Mbah Dinan hehe Amin. :D

Yang saya alami selama ini, karyawan mendapatkan hak-hak nya dalam hal pengobatan ini mbah, seperti perusahaan menyediakan program Jamsostek buat seluruh karyawan nya. :D

Balas
Author
31 January, 2015 23:33 ×

Saya anggap saja keseleo nya tersebut telah memenuhi 5 kategori untuk disebut sebagai kecelakaan tambang ya Mas. Sudah masuk kategori cidera Mas Sucipto Kuncoro, hanya saja masuk kategori cidera ringan atau cidera berat itu yang perlu pemeriksaan lebih lanjut. :d

Balas
Author
31 January, 2015 23:37 ×

Iya memang benar Keselamatan dan Kesehatan kerja di dunia pertambangan memang sangat di utamakan Mas Hary Wardiansyah. Dan Iya, penggolongan cidera akibat kecelakaan tambang telah diatur dalam KepMen no 555 K/26/MPE/1995 pasal 40. Hehe terima kasih sudah berkunjung ya mas. :D

Balas
Author
31 January, 2015 23:41 ×

Nah itulah intinya Mas Fendy. Apapun bidang pekerjaan dan aktivitas kita, kita dituntut untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap segala potensi bahaya yang ada di sekitar kita. Terima kasij atas tambahan nya Mas. :D

Balas
Author
31 January, 2015 23:49 ×

nah, kalau mendapat cedera sebaiknya langsung hubungi petugas medis atau dokter perusahaan deh.

Balas
Author
31 January, 2015 23:50 ×

Lebih serem lagi jika kita harus mengangkat jenazah akibat kecelakaan tambang yang notabene adalah teman kerja kita sendiri mas Buret mrj, yang sehari-hari ketawa bersama kita. Saya sangat setuju dengan slogan "Safety First" ; "Safety the Priority" ; "Utamakan Keselamatan" ; dsb. Sebab jika kita sudah menemui keadaan di atas, maka uang dan segala hal yang kita cari dan kita banggakan sebelumnya, tidak akan ada artinya lagi.

Balas
Author
31 January, 2015 23:56 ×

hehehehe terima kasih sebelumnya atas apresiasi dan ucapan selamat Mas Renggo Starr. Semoga bisa tetap langgeng, Amin. :D

Balas
Author
01 February, 2015 00:31 ×

Sejauh yang saya ketahui setiap perusahaan kontraktor pertambangan memiliki ruang medis dan tim medis yang didalamnya terdapat juga fasilitas medis untuk penangan korban kecelakaan tambang. Namun jika kondisi korban tidak memungkinkan untuk tetap dirawat di ruang medis perusahaan pertambangan tersebut, maka bisa segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. :D

Balas
Author
01 February, 2015 00:36 ×

selain pengaruh terhadap citra dan nama baik perusahaan bisa jadi bahan evaluasi tentunya. menariknya penggolongan cidera ini bisa jadi poin plus buat perusahaan. sebetulnya standar kebijakan inipun bukan semata-mata hasil dari strategi khusus dari perusahaan saya lihat, tapi lebih kepada karena berpedoman secara profesional dengan yang namanya KepMen, betul tidak mas dory?

Balas
Author
01 February, 2015 07:02 ×

yang keluarin penggolongan cidera ini apa kementrian kesehatan atau kementerian yang lain yaaa...mungkin ini untuk memudahkan pengurusan klaim asuransi juga yaaa..
keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

Balas
Author
01 February, 2015 10:04 ×

Keselamatan kerja memang menjd hal prioritas, terutama buat mereka yang memiliki tingkat resiko tinggi

Balas
Author
01 February, 2015 10:19 ×

tapi rujukan kerumah sakit itu tetap ada kan mas...terus masalah tunjangan sakit juga ada gak ya...yang bagus kalau ada tunjangan keluarga pekerja untuk disekolahkan kalau pekerja itu bekerja menurut hitungan tahun tertentu kali ya gan?....menurut agan gimana ya? makasih sebelumnya.

Balas
Author
01 February, 2015 14:26 ×

Kalau bekerja di dunia pertambangan, Kepmen 555 ini mesti dihafal kali yah. hehehhe

Balas
Author
01 February, 2015 14:27 ×

Di tempat saya gak kelihatan. Saya pakai adsblock soalnya. Takit keklik sendiri. hehehe

Balas
Author
01 February, 2015 15:27 ×

pasal2 ini harus lebih dipahami oleh setiap pelaku didalam perusahaan yamas.agar lingkungan kerja dapat kondunsif karena kita sudah tau apa yg mesti kita perbuat dan cara menangani berbagai jenis kecelakaan

Balas
Author
01 February, 2015 15:29 ×

maaf mas baru bisa berkunjung soalnya saya mulai kamis off blog,lg keluar kota hari ini baru balik

Balas
Author
01 February, 2015 15:40 ×

kalau udud saya mah enggak mas
enggak nolak

Balas
Author
01 February, 2015 15:41 ×

nah itu yg utama mas,jadi ilmu yg dipunya mas dory jadi bermanfaat

Balas
Author
01 February, 2015 15:42 ×

ditambah saya mau mbak?
biar banyak

Balas
Author
01 February, 2015 15:43 ×

langsung seruput kopi aja mas

Balas
Author
01 February, 2015 15:43 ×

Betul sekali Mas Suhendri Mr, saya sependapat dengan Mas Suhendri di atas hehehe. :D

Balas
Author
01 February, 2015 15:49 ×

Penggolongan cidera akibat kecelakaan tambang ini berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi (KepMenTamBen) no 555 K/26/MPE/1995 pasal 40 kang Hariyanto. Di dunia pertambangan KepMenTamben lebih familiar di sebut KepMen. Kalau untuk masalah santunan dan sebagainya ada pembahasannya sendiri kang, mungkin saya akan share di kemudian hari. hehe terima kasih sudah berkunjung. :D

Balas
Author
01 February, 2015 16:20 ×

Iya Mbak Susi, slogan utamakan keselamatan bukan hanya slagan belaka di dunia pertambangan. Saking concern nya pemerintah mengutamakan Keselamatan Kerja pekerja tambang, sampai dibuat peraturan lewat KepMen (Keputusan Menteri) 555 ini. Terima kasih atas tambahan nya :D

Balas
Author
01 February, 2015 16:25 ×

Iya ndak mesti dihafal juga kali Mas, Bisa bisa ndak kerja-kerja kita mas jika harus menghafal KepMen 555 yang berisi 555 pasal dan 200 lebih halaman. :D

Balas
Author
01 February, 2015 16:30 ×

Nah betul tuh Mas Yanto, KepMen 555 ini dibuat bukan untuk mencari-cari kesalahan karyawan, namun lebih memberikan pedoman agar karyawan bisa mengetahui dan memahami pekerjaannya. :D

Balas
Author
01 February, 2015 16:34 ×

Wah tidak apa-apa mas, nyantai saja Mas Yanto, saya bisa paham kok kalau sahabat blogger pasti punya kesibukan sendiri-sendiri di dunia nyata, saya pun juga demikian hehe. Yang jelas blog jelek saya ini selalu terbuka buat Mas Yanto dan sahabat blogger lainnya. :D

Balas
Author
01 February, 2015 22:15 ×

kayaknya itu masuk pasal yg lain deh mbah

Balas
Author
01 February, 2015 22:16 ×

semoga itu bisa diminimalkan deh mas
saya nggak bisa mbayangin

Balas
Author
01 February, 2015 22:18 ×

walau saya nggak berkecimpung langsung tp cukup menambah wawasan saya tentang tambang nih mas.soalnya kebetulan adik dan keponakan saya ada yg bekerja ditambang daerah asam-asam banjarmasin

Balas
Author
01 February, 2015 22:20 ×

makasih atas pengertiannya.soalnya saya suka nggak enak bila temen2 berkomentar lebih dari satu dan saya belum sempat berkunjung balik

Balas
Author
01 February, 2015 23:05 ×

Wah bisa kebetulan banget gitu ya mas adik Mas Yanto bekerja di tambang, Adik dan keponakan Mas Ynto kerja di tambang di wilayah nya Arutmin ya Mas. :D

Balas
Author
01 February, 2015 23:11 ×

nggak tau juga sih tepatnya mas.saya juga pernah denger mereka ngomongin arutmin.tp katanya kantor pusatnya disurabaya gitu aja yg saya tau.
oiya grogol kalau nggak salah mas.ada kan mas nama itu?

Balas
Author
01 February, 2015 23:13 ×

Weh nyantai saja Mas Yanto, terus terang saya merasa senang bisa berkomentar di blognya Mas Yanto, karena di sana saya juga bisa berinteraksi dengan sahabat blogger lainnya. Disamping itu, suasana di sana lebih kekeluargaan. Jadinya kerasan di sana sampai berkomentar beberapa kali dalam satu artikel. Hehehe maaf ya mas, bukan maksudnya nyepam jika saya berkomentar banyak di blognya mas Yanto. :D

Balas
Author
01 February, 2015 23:28 ×

Ada tuh mas PT Grogol dan pt besar lagi. Setahu saya bidangnya tidak hanya pertambangan saja grogol itu mas karena bidangnya di suply heavy equipment dan dumptruck. Tapi maaf jika saya salah, maklum belum pernah ikut grogol mas Yanto. :D

Balas
Author
01 February, 2015 23:30 ×

o banyak juga ya pt didaerah sana mas.emang mas dory ada didaerah tambang mana?

Balas
Author
01 February, 2015 23:35 ×

Hehehe perkiraan saya juga begitu mas, pasti selama ini pakai adsblock. Tapi saya aminin saja biar lebih afdhol. :d Kalau saya tidak pakai adsblock walaupun saat BW untuk lebih menghargai sahabat blogger. :D

Balas
Author
01 February, 2015 23:35 ×

memang admin blog saya banyak koq mas.ada mas zach,kang lembu,mas arie,kang dede,mas wong,mbah dinan dan masih banyak lagi.semua bisa jadi admin mas termasuk mas dory
saya sih ngga ada masalah mas mau ngomong apa diblog saya asal ada satu komentar yg sesuai topik.pasti saya bales berkunjung walau kadang2 telat...
tujuan saya ngeblog kan memang untuk menambah temen mas,lalu menambah uang jajan.
alhamdulillah sudah tercapai sekarang tinggal menjaganya

Balas
Author
01 February, 2015 23:42 ×

Di Sangatta Mas Yanto, di sebuah perusahaan kecil. Maaf saya tidak menyebutkan nama PT nya, nanti jadi malu sendiri saya nya hahahaha. :D

Balas
Author
01 February, 2015 23:48 ×

Wah jadi kita ini sama-sama ududers dong mas alias pecinta udud hehehe. Ngudud dulu mas sambil nyruput kopi ginastel (Legi panas kentel). :D

Balas
Author
02 February, 2015 00:01 ×

Saya jadi admin freelancer saja ya mas, hehe soalnya takut ndak bisa jaga amanah jika dijadikan admin tetap. Untuk komentar saya usahain bisa sesuai topik, namun ya gitu kalau sudah kumat sedeng nya komentar selanjutnya pasti ngalor ngidul. :D

Alhamdulillah, saya senang banget bisa berteman dengan blogger benar-benar sudah membuktikan bisa menghasilkan fulus dari blog nya. Jadinya saya bisa belajar langsung dari blognya Mas Yanto. :D

Balas
Author
02 February, 2015 00:12 ×

@Mbah Dinan Kalau rujukan ke rumah sakit itu sudah otomatis ada mbah jika korban tidak memungkinkan di rawat di ruang medis yang disediakan perusahaan pertambangan. Kalau untuk masalah tunjangan sakit, beberapa perusahaan yang saya ikuti menyediakan itu untuk karyawannya, beberapa perusahaan yang saya ikuti lainnya tidak ada, namun jika karyawan sakit, pengobatannya tetap di tanggung perusahaan. Kalau untuk pasal di KepMen 555 nya saya cari dulu ya Mbah, maklum saya sendiri masih harus banyak belajar dan tidak hafal seluruh pasal dalam Kepmen tersebut. :D

@Yanto Cungkup Nah betul kata Mas Yanto tuh Mbah, sudah masuk pasal lain. Untuk pasal berapa, itu yang masih harus saya cari. :D

Balas
Author
02 February, 2015 00:15 ×

Amin, harapan saya juga demikian mas. Jadi target keselamatan kerja di tambang tidak lagi "zero fatality" mas, namun lebih ke "zero accident". :D

Balas
Author
02 February, 2015 02:48 ×

kalau mengalami cidera selama beberapa minggu (sesuai batas cidera ringan), lama juga yah, mas. maksdunya selama itu masih tergolong cedera ringan. bekerja di pertambangan perlu hati2 yang ekstra yah. resiko buruk yang bisa dialami lebih besar. tapi kalau pekerja melakuan dengan cermat dan berhati2, mungkin akan baik2 saja.

Balas
Author
02 February, 2015 10:44 ×

itu mah setelan paling cocok mas

Balas
Author
02 February, 2015 10:45 ×

o...berarti jauh tuh mas sama banjar

Balas
Author
02 February, 2015 11:04 ×

Iya Mas Richo A Nogroho, Masa penyembuhan dan pemulihannya yang butuh waktu, sedangkan untuk kejadian kecelakaan nya hanya butuh waktu sepersekian detik saja alias "Makpress". Untuk itu, sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan saat bekerja, saya rasa tidak hanya di dunia pertambangan, namun untuk semua bidang pekerjaan yang kita lakukan mas. :d

Balas
Author
02 February, 2015 11:07 ×

Amin itulah yang saya harapkan Mas. Saya yakin Mas Yanto pun juga seperti itu, berbagi informasi dan pengalaman Mas Yanto buat pembaca lewat blog Mas Yanto. :D

Balas
Author
02 February, 2015 12:20 ×

kopi nyaa gak ada mas yan gimana dong ? :v

Balas
Author
02 February, 2015 12:49 ×

Kalau udud ada ndak Mas Ainnul. :D

Balas
Author
02 February, 2015 13:29 ×

och gitu ya... terima kasih penjelasannya mas

Balas
Author
02 February, 2015 13:30 ×

udud apa itu mas?

Balas
Author
02 February, 2015 20:55 ×

kalau urusan kayak gini nyerh saya mas, hehehehe,,,,ternyata gak cuma cedera olahraga saja, tetapi cedera pertambangan juga ada kepmennya

Balas
Author
02 February, 2015 22:12 ×

amiin

Balas
Author
02 February, 2015 22:13 ×

masalahnya saya sering sedeng nih mas
hehehe

Balas
Author
02 February, 2015 22:13 ×

yg pasti bisa nambah wawasan kita khususnya dibidang pertambangan kan mas

Balas
Author
03 February, 2015 05:46 ×

Aamiin mas, semoga langgeng sampai aki-aki dan nini-nini. hehe

Balas
Author
03 February, 2015 05:47 ×

Kalo urusan gini mah, mas Dory jagonya..
Tak ada keraguan, deh. :)

Balas
Author
03 February, 2015 06:51 ×

Segala sesuatu pada jenis pekerjaan sudah di atur ya mas oleh UUD, semoga dengan begitu terlihat kejelasannya, hanya saja yang menjadi polemik adalah aturan tersebut sering kali diabaikan :D

Balas
Author
03 February, 2015 17:06 ×

sama sama mas
eh siapa sih adminnya

Balas
Author
03 February, 2015 17:10 ×

itulah mas
makanya setiap orang yg terkait dengan pekerjaan tersebut mestinya memahami aturannya

Balas
Author
04 February, 2015 17:48 ×

Nah itulah Mas Dory, dilemanya. Saya bingung juga, dilain sisi adsblock itu perlu. Tapi di sisi lain, adsblock itu cukup merugikan.
#kok ngomongin adsblock sih.
hehehe
:D

Balas
Author
04 February, 2015 18:24 ×

Yang penting kan tetep saling menghargai pendirian masing-masing saja sih Mas Ridha. Seperti saya, saya ndak pernah maksa seseorang harus begini atau begitu sesuai dengan keinginan saya. Berarti keren dan baik hati kan saya mas. hehehe :D

Balas
Author
04 February, 2015 18:28 ×

Hehehe ini mas Renggo kayak do'a in orang baru nikahan aja. Amin Mas :D

Balas
Author
18 August, 2015 13:35 ×

Mas Dory ...

Jika suatu perusahaan ada kantor pusat di Jakarta dan ada daerah operasi produksi di wilayah kalimantan...dimana Katek Tambang berada di Jakrta dan di daerah terdapat Wakatek Tambang...

Nah yang menjadi pertanyaan jika Wakatek Tambang Berhalangan hadir hingga kurang lebih 1 bulan apakah dapat fungsi wakatek tambang di remote oleh katek dari Jakarta atau kah Katek harus ke Lapangan (daerah operasi)

Apakah ada aturan setiap daerah operasi tidak boleh ada kekosongan Katek / Wakatek Tambang

terima kasih

Balas
Author

Silahkan tambahkan komentar anda di bawah ini.

Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Terima kasih sudah berkomentar