Kecelakaan Tambang Berdasarkan KepMen 555

Blog Mas Dory -Tentang 5 kriteria kecelakaan tambang. Informasi berikut ini membahas tentang 5 kategori atau kriteria kecelakaan tambang berdasarkan KepMen no 555 K/26/MPE/1995 bagian kesepuluh tentang kecelakaan tambang dan kejadian berbahaya pasal 39. Tujuan saya berbagi informasi ini adalah untuk memberikan tambahan wawasan dan pemahaman saya kepada pengawas tambang khusus nya bahwa suatu kejadian baru bisa di sebut sebagai kecelakaan tambang setelah memenuhi 5 unsur atau kriteria sesuai dengan pasal 39 KepMen 555 di atas.

Selain itu, saya berharap semoga setelah membaca artikel ini kita bisa lebih meningkatkan kewaspadaan saat bekerja terhadap segala potensi bahaya yang mungkin ada di sekitar area kerja kita pada umum nya. Tidak peduli seberapa senior atau berapa lama kita bekerja di suatu tempat, kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja.

5 Kriteria Kecelakaan Tambang | Blog Mas Dory

Definisi Kecelakaan.


Kecelakaan adalah kejadian yang tidak pernah direncanakan, tidak di inginkan, yang bisa terjadi pada siapa saja dan menimbulkan kerugian terhadap seseorang dan atau alat, harta benda.

Sedangkan kecelakaan tambang berdasarkan KepMen 555 K/26/MPE/1995 Bagian Kesepuluh Kecelakaan Tambang dan Kejadian Berbahaya pasal 39 berbunyi:
Kecelakaan tambang harus memenuhi 5 (lima) unsur sebagai berikut:

a. Benar-benar terjadi.
b. Mengakibatkan cidera pekerja tambang atau orang yang diberi ijin oleh Kepala Teknik Tambang.
c. Akibat kegiatan usaha pertambangan.
d. Terjadi pada jam kerja pekerja tambang yang mendapat cidera atau orang yang mendapat ijin dan;
e. Terjadi di dalam wilayah kegiatan usaha pertambangan atau wilayah proyek.
Berikut ini adalah sedikit pemahaman saya tentang kecelakaan tambang dari apa yang sudah tercantum di KepMen 555 pasal 39 tentang Kecelakaan Tambang dan Kejadian berbahaya di atas.

Maksud dari pasal 39 KepMen no 555 K/26/MPE/1995 di atas adalah sebagai berikut:


a. Benar-benar terjadi.
Merujuk pada definisi kecelakaan itu sendiri, maka "benar-benar terjadi" di sini bisa berarti kejadian tersebut sungguh terjadi, tidak ada unsur rekayasa di dalamnya, tidak ada unsur kesengajaan, dan tidak di inginkan oleh siapa pun bahkan oleh korban itu sendiri.

Sedangkan jika dalam proses investigasi ditemukan unsur kesengajaan dan unsur rekayasa (di buat-buat agar terlihat seperti kecelakaan), maka kejadian tersebut tidak bisa disebut sebagai kecelakaan tambang dan kasusnya di limpahkan ke Kepolisian karena sudah masuk ke ruang lingkup hukum yang berlaku di Republik Indonesia.

b. Mengakibatkan cidera pekerja tambang atau orang yang diberi ijin oleh Kepala Teknik Tambang (KTT).
Kecelakaan menimpa dan mengakibatkan cidera pekerja tambang di perusahaan pertambangan tersebut atau orang yang di beri ijin (telah diberi pembekalan induksi sebelumnya oleh OSHE Dept.) sebelumnya untuk memasuki wilayah pertambangan seperti tamu, buyer, atau karyawan baru yang belum menerima Mine Permit atau Kimper.

c. Akibat kegiatan usaha pertambangan.
Kecelakaan terjadi akibat dari aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh pekerja tambang atau pergerakan material di wilayah pertambangan tersebut, contohnya seperti tertabrak, terjatuh, terjepit, tertimpa, tertimbun, dll.

d. Terjadi pada jam kerja pekerja tambang yang mengalami kecelakaan atau orang yang mendapat ijin.
kecelakaan terjadi pada saat jam kerja dari pekerja tambang yang mengalami kecelakaan tersebut. Jika kecelakaan terjadi diluar jam kerja pekerja tambang tersebut, maka tidak termasuk dalam kategori kecelakaan tambang.

e. Terjadi di dalam wilayah kegiatan usaha pertambangan atau wilayah proyek.
Kecelakaan terjadi area pertambangan atau di wilayah Kuasa Pertambangan (KP) atau beberapa perusahaan menyebut wilayah atau area pertambangan ini dengan area PKP2B (Perjanjian Karya Pengusaha Pertambangan Batu Bara).

Berdasarkan KepMen 555 di atas, bahwa suatu kejadian kecelakaan yang terjadi di pertambangan baru bisa di sebut sebagai kecelakaan tambang setelah memenuhi 5 kriteria yang telah di sebutkan diatas. Jika dalam investigasi tidak atau belum terpenuhi 5 unsur tersebut, maka belum bisa di kategorikan sebagai kecelakaan tambang, mungkin masih dikategorikan sebagai kecelakaan kerja, atau kecelakaan lalu lintas.

Baca Juga Penggolongan Cidera Berdasarkan KepMen no 555 disini.

Sedangkan untuk siapa yang bertanggung jawab melaksanakan investigasi suatu kecelakaan di tambang, Klasifikasi luka akibat kecelakaan, tentang santunan yang di terima korban kecelakaan di tambang akan saya bahas di artikel berikutnya.

Terlepas dari itu semua, saya berpesan, khususnya pada diri saya untuk selalu meningkatkan kewaspadaan saat bekerja dan beraktivitas. Salah satu cara untuk menjauhkan potensi bahaya yang ada dalam pekerjaan kita adalah dengan benar-benar memahami pekerjaan tersebut. Tetap bekerja dengan aman dan selamat, dan tetap ingat bahwa keluarga tercinta menanti kita di rumah. Terima kasih dan semoga sedikit pemahaman saya ini bisa bermanfaat buat kita semua, Amin.

Sumber Informasi dan rujukan: KepMen no 555 K/26/MPE/1995 Bagian Kesepuluh, Kecelakaan Tambang dan Kejadian Berbahaya pasal 39.
Reviewer: Mas Dory
on: 1/17/2015, Rating: 5
ItemReviewed: Kecelakaan Tambang Berdasarkan KepMen 555
Descripton: Blog Mas Dory - 5 Kategori kecelakaan tambang berdasarkan KepMen no 555 K/26/MPE/1995 Bagian Kesepuluh tentang Kecelakaan Tambang dan Kejadian Berbahaya pasal 39.
48 komentar Form Kotak komentar
17 January, 2015 17:50 ×

ada keputusan menteri yang mengatur yah, mas. jadi baru bisa dikatakan kalau sudah memenuhi semua unsur di atas, tidak bisa salah satunya yah. Amin, semoga kita selalu mawas diri dalam beraktivitas di lingkungan kerja.

Balas
Author
17 January, 2015 18:11 ×

banyak juga kecelakaan yang termasuk dalam aturan kepmen...berarti jika ada kecelekaan yang tak disengaja itu jadi tanggungjawab perusahaan ya mas

Balas
Author
17 January, 2015 18:27 ×

Wah tentang pertambangan ya. Saya kurang paham tentang dunia ini hehe - salam blogwalking

Balas
Author
17 January, 2015 19:15 ×

Lah jadi kalau ada karyawan yang lembur itu lalau mengalami kecelakaan, apa itu diluar jam kerja atau di dalam jam kerja? Apalagi kalau pas balik ke kantor lantaran ada barang yang ketinggalan trus ketimpa batu segede batu bara itu, apa itu juga diluar jam kerja?

Balas
Author
17 January, 2015 19:56 ×

semoga dibalik semua ini ada hikmahnya untuk lebih meningkatkan lagi kewaspadaan terhadap kejadian serupa ... :)

Balas
Author
17 January, 2015 22:08 ×

tentunya artikel tentang peraturan ini akan membuat semua pelaku tambang menjadi paham point2 nya yamas

Balas
Author
17 January, 2015 22:10 ×

kayaknya asal berada diwilayah pertambangan dan diwaktu jam kerja akan menjadi tanggung jawab perusahaan deh mas,maaf bila pendapat saya salah yamas

Balas
Author
17 January, 2015 23:59 ×

ada jaminannya ya mas, baguslah. Tapi jika terjadi kecelakaan, masalah gaji gimana tu, masih diberi atau tidak sama sekali :D

Balas
Author
18 January, 2015 02:13 ×

jadi kata lain bukan hanay sebatas lisan saja ya mas, mengatakan telah terjadi kecelakaan, tetapi kudu ada bukti yang akurat kalau kecelakaan itu benar-benar terjadi.

Balas
Author
18 January, 2015 06:47 ×

meskipun ada peraturan kecelakaan dari Pemerintah, ada baiknya kecelakaan di pertambangan di minimalisir, supaya produktifitas pertamnbangan meningkat

Balas
Author
18 January, 2015 14:02 ×

Iya benar Mas Richo A Nogroho, suatu kejadian baru bisa di katakan sebagai kecelakaan tambang setelah memenuhi 5 kategori yang sudah di atur di KepMen 555 pasal 39 di atas. :D

Balas
Author
18 January, 2015 14:10 ×

@Purnama : Jika dikembalikan lagi ke definisinnya di atas, memang kecelakaan itu adalah kejadian yang tidak ada unsur kesengajaan di dalam nya. Kalau untuk pertanyaan yang kedua sudah di jawab dengan benar sama Mas Yanto. Namun perhitungan berapa nominal yang diterima tergantung dari kebijaksanaan masing-masing perusahaan. InsyaAllah saya akan buat informasi ini di kesempatan berikutnya (agak lama bikin nya, nih lagi antri ngetik yang lain :D ).

@Yanto Cungkup : Benar sekali pendapat nya Mas Yanto. Terima kasih sudah dibantu menjawab. Saya sangat merasa terbantu dengan jawaban Mas Yanto ini. :D

Balas
Author
18 January, 2015 14:13 ×

Sebenarnya blog nya bukan hanya tentang pertambangan Mas Suhendri, ada artikel umum lainnya. Namun entalah, belakangan ini lagi pingin nulis informasi tentang pertambangan. hehe Salam kenal buat Mas Suhendri. :D

Balas
Author
18 January, 2015 14:23 ×

masalah keselamatan memang harus diperhatikan oleh perusahaan penyedia tenaga kerja atau konteraktor....namun banyak juga para perusahaan malah membiarkan saja hal ini, seakan tidak mau tahu...padahal kalau sudah kejadian kan yang dirugikan perusahaan itu sendiri ya gan?

Balas
Author
18 January, 2015 14:24 ×

masalah ketenaga kerjaan sudah di atau dalam kepmen dan peraturan pemerintah dalam bidang tenaga kerja ret...tianggal orangnya aja yang harus memperhatikan prosedur dan mau menjalankannya sesuai aturan yang berlaku.

Balas
Author
18 January, 2015 14:26 ×

kalau menurut peraturan itu dapat biaya periobatan dan separuh gaji selama ia diistirahatkan kang, tapi kebanyak perusahaan memberi biaya perobatan, langsung memberikan pesangon sebulan kerja lalu mengganti orang yang mendapat kecelakaan tersebut, hal ini berhubungan dengan kelancaran produksi dan pekerjaan....

Balas
Author
18 January, 2015 14:44 ×

Pertanyaan yang bagus Mas Ridha Harwan. Namun sebelumnya, saya menangkap kesan pertanyaan Mas Ridha Harwan di atas mengandung kekhawatiran bahwa jika suatu kejadian atau kecelakaan tidak di sebut sebagai kecelakaan tambang, maka korban kecelakaan tersebut tidak akan mendapat ganti rugi dan semisalnya. Padahal artikel saya di atas sama sekali tidak menyebut hal ini.

Namun saya akan coba jawab pertanyaan Mas Ridha ini. Jam lembur memang berada di luar jam kerja normal, namun masih terhitung jam kerja (hanya hitungan pengupahan saja yang berbeda dari jam kerja normal). Jadi menurut saya jam lembur tetap berada di dalam jam kerja karyawan, karena di jam lembur tersebut karyawan masih melakukan aktivitas / kegiatan (dalam hal ini aktivitas pertambangan) yang sama seperti jam kerja normal.

Misalnya jam kerja normal karyawan berakhir pukul 16:00 dan dia lembur sampai jam 17:00. Maka hitungan 1 jam setelah jam 16:00 masih terhitung jam kerja karyawan (hanya hitungan pengupahan nya saja yang berbeda) karena di waktu tersebut karyawan masih melakukan aktivitasnya seperti sebelum jam 16:00.

Pertanyaan yang kedua saya rasa sudah jelas, jika jam kerja karyawan berakhir pukul 16:00 dan karyawan tersebut tidak sedang lembur, maka kejadian kecelakaan yang terjadi setelah jam 16:00 sudah bukan terhitung sebagai kecelakaan tambang, tergantung hasil investigasi nantinya apakah kejadian tersebut kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas, dll.

Pada intinya, suatu kejadian disebut sebagai kecelakaan tambang atau tidak, korban akan tetap mendapat santunan dan perhatian dari perusahaan. Besarnya santunan dan biaya perawatan pengobatan tergantung dari kebijaksanaan perusahaan tersebut. Semoga jawaban ini yang Mas Ridha cari. Namun jika ada yang ingin menambahkan, mengkoreksi jawaban ini, dengan senang hati saya akan menerima nya. Karena saya sendiri masih harus banyak belajar tentang hal ini. :D

Balas
Author
18 January, 2015 14:49 ×

Amin iya gan, terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog bagus saya. Semoga Agan Info Menarik tidak tersinggung lagi ya. Hahaha :D

Balas
Author
18 January, 2015 14:52 ×

Amin Ya Allah, harapan saya seperti itu Mas Yanto. Terima kasih atas tambahannya ya mas. :D

Balas
Author
18 January, 2015 15:00 ×

@ Ibrahim M Pd I : Nah itu sudah di jawab sama sama Mbah Dinan. Sebenarnya ini masuk ruang lingkupnya HRD Mas dan saya kurang paham hitungan-hitungan orang HRD. Namun untuk pastinya sih tergantung kebijaksanaan perusahaan pertambangan mas. :D

@Mbah Dinan : Terima kasih sudah dibantu berbagi pengalamannya mbah. jawaban mbah Dinan membantu bingitz. :D

Balas
Author
18 January, 2015 15:08 ×

Benar sekali mbak Devy Indriyani, semua harus ada datanya tidak hanya kecelakaan saja. Wow saya sangat terkejut jawaban bagus ini berasal dari cewek. Menurut saya Mbak Devy punya bakat dech jadi pengawas Tambang. hehe terima kasih sudah berkunjung dan menambahkan komentar nya mbak. :D

Balas
Author
18 January, 2015 15:17 ×

Benar banget tuch jawaban Mas Buret Mrj dan Mbah Dinan di atas. Sudah menjadi kewajiban semua karyawan untuk bekerja dengan aman dan selamat di bidang pekerjaan apapun juga termasuk juga pertambangan. Semua dikembalikan ke pribadi masing-masing karyawan tersebut. :D

Balas
Author
18 January, 2015 15:23 ×

Iya saat ini sudah mulai banyak perusahaan yang menerapkan nilai dan budaya K3 di dalam nya, walaupun masih banyak juga yang belum menerapkannya, namun saya yakin suatu saat nanti semua perusahaan akan menyadari bahwa budaya safety itu sangat penting dalam pelaksanaan saat bekerja. Terima kasih tambahannya Mbah Dinan. :D

Balas
Author
18 January, 2015 17:58 ×

Justru ini yang membuat semakin tersinggung, karena blog saya tidak bagus ... hahahahahaha

Balas
Author
18 January, 2015 20:24 ×

berati ada peraturan-peraturan tertentu ya...

Balas
Author
18 January, 2015 21:39 ×

Dulu saya sering melihat kecelakaan kerja di tambang batu bara sewaktu masih jadi supir mobil pengangkut batu bara mas, tapi kecelakaan tersebut kebanyakan karena kelalaian dan kecerobohan dari si pengemudi truk itu sendiri

Balas
Author
18 January, 2015 22:56 ×

ngeri juga ya kang yg bekerja dalam bidang pertambangan ini, jika ada suatu kecelakan taruhannya bisa nyawa, perlu ketelitian dan tentunya konsentrasi extra dalam menekuni pekerjaaannya,

Balas
Author
19 January, 2015 06:22 ×

Jawabannya malah bisa bikin jadi 1 artikel loh mas. hahaha.
Tapi kalau merujuk peraturan Kepmen sendiri bagaimana? soal kecelakaan pada saat lembur. Kayaknya itu masih di dalam jam kerja deh. Jadi mungkin masih dapat santunan. Kan lembur itu terhitung jam kerja. walaupun kadang lembur itu, ada juga perusahaan yang gak mau bayar lemburan karywannya. hehehe

Balas
Author
19 January, 2015 06:34 ×

Dengan KEPMEN ini karyawan bisa segera diatasi kalau ada yang mengalami kecelakaan. Kalau prosedur ribet kasihan juga yang jadi korban bisa-bisa kehabisan darah atau lemah energi.

Memang perlu stamina yang lebih kalau kerja di lapangan.

Semoga aja kesejahteraan mereka bisa diperhatikan dengan notabene kerja yang berisiko tinggi.

Makasih infonya pak.

Balas
Author
19 January, 2015 16:17 ×

baik lah kalau begitu. lumayan buat nambah wawasan juga. biar enggak manyun :D

Balas
Author
19 January, 2015 16:48 ×

saya pernah kecelakaan nih dalam menambang blog. hehee salam kenal mas..

Balas
Author
20 January, 2015 20:35 ×

setelah diinvestigasi bisa dapat santunan ya...
sudah termasuk asuransi belum mas?

Balas
Author
21 January, 2015 16:52 ×

Iya betul juga mas saran mas Rido itu ... :)

Balas
Author
22 January, 2015 11:23 ×

baru tau kalau kecelakaan tambang itu ada pasalnya,terimakasih informasinya :)

Balas
Author
22 January, 2015 21:23 ×

bila kita melaksanakan prosedur kerja dengan benar dan menjalankan sistem kerja dengan mengedepankan sefty firts mungkin kecelakaan akan bisa diminimalisir, yah itu juga harus di barengi dengan tawakkal gan....

Balas
Author
24 January, 2015 22:37 ×

@Mas Ridha: hehehe, iya panjang jawabannya mas Dory yah, mas :D. menanggapi balas mas, sepertinya sudah dijelaskan dalam jawaban mas Dory, mas. bukankah di sana sudah dijelaskan terperinci, mengenai jam lembur yang masih terkategorikan jam kerja. yang membedakan adanya penambahan upah lembur.

sepakat juga dengan kesimpulan akhirnya, bagaimanapun, perusahaan akan memperhatikan hal2 terkait, saya jadi ingat kejadian yang menimpa mas Hedy, mas sepupu saya. dia meninggal karena penyakit yang dihidapnya. dan beberapa hari sebelumnya sudah opname (tentu tidak kerja). sampai ketika beliau kembali ke pangkuan ilahi. jenazahnya dikembalikan ke ortu (dia perantauan di Malang). dan semua administrasi RS dan bahkan biaya ambulan ke rumah, juga ditanggung bosnya (perhotelan). dan tak cuma itu, dikasik santunan lagi. luar biasa kebaikan beliau2. jadi, sekalipun itu di luar aturan kompensasi. dan pada akhirnya semua kembali kepada kebijaksanaan perusahan sendiri.

Balas
Author
26 January, 2015 19:58 ×

@Ridha Harwan nah ntu sudah saya sebutkan diatas kalau jam lembur masih termasuk dalam jam kerja karena di jam lembur karyawan masih melakukan aktivitas seperti jam normal, hanya sistem pengupahan nya saja yang berbeda. Bagus juga tuh komentar akhir kalimat mas Ridha Harwan, beberapa perusahaan seakan-akan terkena amnesia mendadak jika bicara masalah jam lembur ini sehingga lupa (atau ndak mau mbayar ya) untuk membayar upah lembur karyawannya. :D

@Info Menarik Iya saya juga sependapat kok gan sama mas Ridha Harwan, siapa yang nyalahin. Hehe Peace gan, ojo nesu. :D

@Richo A Nogroho Turut prihatin atas musibah yang menimpa Mas Hedy sepupu Mas Richo. Semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di SisiNYA Amin. Saya salut terhadap bos almarhum yang sangat perduli dengan nasib anak buahnya. Saya yakin masih banyak perusahaan di luar sana yang juga bersikap sama, karena ini sudah menyangkut nilai-nilai kemanusiaan dalam diri seseorang dan bukan lagi bicara masalah untung atau rugi. :D

Balas
Author
26 January, 2015 20:02 ×

Iya Mbak Erna, ada peraturan yang mengatur tentang kecelakaan tambang ini yaitu KepMen 555. Maaf baru balas komentarnya, keyboard laptop habis terkena tumpahan kopi, jadi harus di cleaning dan nunggu kering dulu. Hehe salam kenal ya Mbak dan terima kasih sudah berkunjung. :D

Balas
Author
26 January, 2015 20:16 ×

Weleh berarti sama dong mas Arie, saya juga pernah jadi supir dumptruck waktu di tamiyang Kalteng. :D

Ada satu teori dari H. W. Heinrich yang menyebutkan bahwa 88% kecelakaan yang terjadi berawal dari tindakan tidak aman oleh karyawan dibanding dengan kondisi tidak aman di area tersebut. Saya akan jelaskan teori dari H. W. Heinrich ini di artikel berikutnya (InsyaAllah :D sangat banyak yang harus saya bagi di sini, namun sangat sedikit waktu yang saya punya untuk online). :D

Balas
Author
27 January, 2015 07:29 ×

Betul banget @Richo. Semua dikembalikan kepada kebijakan manajemen perusahaan.

Balas
Author
27 January, 2015 07:30 ×

Pembahasannya jadi menarik gini yah. wkwkwkwk
Maklumlah Mas Dory, saya juga pernah rasanya lembur gak dibayar. Jadi yah gitu deh. hehehe
Apalagi dulu kalau sudah ngomonign lembur, ini semacam pembahasan yang sensitif dan hal yang tabu. hahahaha

Balas
Author
27 January, 2015 12:56 ×

Hehehe, berarti sama donk, saya sendiri juga kenyang lembur gak dibayar mas. Menurut saya sih dibuat kurang lebih saja mas, toch perusahaan juga kasih toleransi lebih jika kita tidak terlalu nuntut. Misalnya ndak etis juga jika kita nuntut uang lembur yang beberapa puluh jam (paling hanya beberapa ratus ribu) saat kita tahu kondisi perusahaan lagi seret financial. Toch perusahaan juga ngasih bonus atau fasilitas lainnya saat kondisi perusahaan tersebut surplus. hehe kalau sudah rejeki kita, pasti ndak akan kemana kok mas Ridha. Hehehe enjoy men :D

Balas
Author
28 January, 2015 06:30 ×

Iya betul sekali Mas Dory.

Balas
Author
28 January, 2015 10:10 ×

ya kalau kecelakaannya di lokasi pertambangan udah pasti kecelakaan tambang ya :D .. kalau di jalan raya kecelakaan jalan raya gitu ? :D

Balas
Author
31 January, 2015 10:01 ×

wah mas, semoga lecelakaan di pertambangan bisa berkurang ya, soalnya adik saya kerja di pertambangan

Balas
Author
31 January, 2015 21:24 ×

Mohon ijin untuk menyimak gan, saya awam di bidang pertambangan...

Balas
Author
Anonymous
24 March, 2015 11:47 ×

Akang-akang semua,

Apakah ada yg punya Materi untuk sertifikasi POP ?
kalau ada yg punya mohon untuk bisa di share dong.
Kirim ke email saya. di [email protected]

Salam,
Keko Prasetyo

Balas
Author
21 January, 2016 10:10 ×

info yang sangat bermanfaat...

Bagi yang beminat membuat aksesoris seperti kelapa sabuk,dll
silahkan kunjungi website www.vizeta.net

Balas
Author

Silahkan tambahkan komentar anda di bawah ini.

Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Terima kasih sudah berkomentar